Minggu, 05 Februari 2012

Makalah tentang Pertumbuhan dan perkembangan

Oleh : Moh. Mukhlas Hadi 



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Setiap manusia pasti akan mengalami suatu perubahan dari masa bayi hingga dewasa. Setiap anak juga mempunyai ciri perubahan-perubahan untuk menuju ke tahap dewasa, yaitu pertumbuhan dan perkembangan dengan tahapan tertentu sesuai dengan umurnya. Jadi, seorang anak tidak bisa dikatakan sebagai remaja kecil, karena anak itu berbeda dengan orang dewasa mulai dari fisik, pola pikir dan cara berpikir yang masih dalam proses perkembangan dan pertumbuhan. Sebenarnya pertumbuhan dan perkembangan mempunyai hubungan yang erat, tapi pokok permasalahannya berbeda. Sehubungan dengan itu, sampai saat ini masih banyak para pendidik yang kurang memahami dua kata tersebut.
Hal itulah yang melatar belakangi pembuatan makalah ini. Dengan harapan selain menjadi bahan
referensi mata kuliah pengantar psikologi, semoga makalah ini juga dapat membantu para pendidik mengenal apa itu pertumbuhan dan perkembangan pribadi manusia, sehingga dapat mengajarkan ilmunya sesuai pribadi manusia tersebut.
1.2  Rumusan Masalah
Ø  Apa pengertian dari pertumbuhan dan perkembangan?
Ø  Bagaimana tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan?
Ø  Apa saja ciri-ciri dari pertumbuhan dan perkembangan?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1            Pengertian  Pertumbuhan dan Perkembangan
2.1.1 Pengertian Pertumbuhan
Pertumbuhan diartikan perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahan kuantitatif dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas, dan sebagainya. Pertumbuhan pribadi sebagai perubahan kuantitatif pada material pribadi sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan material seperti sel, kromosom, butir darah, rambut, dan tulang tidak dapat dikatakan berkembang melainkan tumbuh. Begitu juga material pribadi, seperti kesan, keinginan, ide, pengetahuan, nilai, selama tidak dihubungkan dengan fungsinya tidak dapat dikatakan berkembang melainkan mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan dinyatakan dalam bentuk perubahan yang terjadi pada bagian-bagian material, tetapi pertumbuhan itu sendiri mempunyai sifat kesatuan  dan keumuman, dalam hal ini suatu organisme.[1]
Contoh, seorang bayi lahir dengan ukuran fisik yang masih pendek dan kecil. Semakin lama akan mengalami perubahan sesuai dengan umurnya, tubuh bertambah tinggi atau panjang yang dapat diketahui dengan pengukur tinggi badan atau berat badan semakin banyak yang dapat diketahui dengan menimbangnya juga, dan lainnya yang berkaitan dengan fisik. [2]
2.1.2        Pengertian Perkembangan
Perkembangan merupakan suatu proses yang pasti dialami oleh setiap individu, perkembangan ini adalah proses yang bersifat kualitatif dan berhubungan dengan kematangan seorang individu yang ditinjau dari perubahan yang bersifat progresif serta sistematis di dalam diri manusia. Akhmad Sudarjat : 2008, memberikan definisi bahwa, “perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan-perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.”[3]
Seorang individu mengalami perkembangan sejak masa konsepsi, serta akan berlangsung selama hidupnya. “perkembangan adalah proses yang berlangsung sejak konsepsi, lahir dan sesudahnya, dimana badan, otak, kemampuan, dan tingkah laku pada masa usia dini, anak-anak, dan dewasa menjadi lebih kompleksdan berlanjut dengan kematangan sepanjang hidup.”(Dr.Siti Aminah soepalarto, SpS(K): 2008).[4]
Contoh, seorang bayi yang awalnya lahir dengan struktur jaringan dan fungsi organ yang masih sederhana. Mereka hanya bisa berguling-guling belum bisa seutuhnya bergerak dan semakin lama ada perubahan sedikit demi sedikit. Bisa merangkak, tahu orang-orang disekitar, belajar berjalan dan belajar berbicara sehingga otot dan kekuatan jaringan syarafnya semakin sempurna. [5]
2.2            Fase-fase Pertumbuhan dan Perkembangan Pribadi Manusia
2.2.1 Fase-fase Pertumbuhan Pribadi Manusia
Manusia secara genetis mula-mula terjadi dari satu sperma dan satu telur. Sperma adalah satu tetes air senggama. Dari setetes air senggama saja sudah terdiri atas berjuta-juta sperma yang dapat dilihat melalui mikroskop yang berbentuk menyerupai bulatan kepala, berekor panjang, dan bergerak. Didalam satu sperma yang kecil itu terkandung benda-benda teramat kecil sejumlah dua puluh empat yang disebut kromosom. Berjuta-juta sperma berenang memasuki rahim ibu, hanya satu diantaranya yang dapat sampai ke sasaran, yaitu sel telur. Dua puluh empat kromosom dari ayah dan dua puluh empat kromosom dari ibu, masing-masing berpasangan di dalam indung telur. Dua puluh empat pasang kromosom inilah penentu turunan fisik dari kehidupan pribadi manusia. Pertumbuhan berlanjut terus dengan adanya proses devision dan redevision (pembagian sel dan pembelahan kembali pada sel-sel). Pembelahan dan perpasangan kromosom seperti per yang semakin lama semakin rapat. Rapatan kromosom ini tumbuh dan semakin banyak membentuk butiran yang disebut genes. Setelah itu telur menjadi masak dan masuklah saraf dari pihak ibu. Sel-sel tidak lagi tinggal bersama. Tatkala jumlah sel masih terbatas, sel-sel tu mulai mengadakan spesialisasi, yaitu beberapa menjadi sel-sel tulang, sebagian menjadi sel-sel kulit, sebagian menjadi sel-sel daging, sebagian menjadi sel-sel otak, sebagian menjadi sel-sel otot, dan sebagainya. Semua sel yang telah terspesialisasi ini tumbuh terus dan membentuk berbagai bagian dari tubuh manusia. [6]
Selama sembilan bulan bayi mengalami pertumbuhan sehingga memiliki bentuk dan struktur tubuh yang lengkap meliputi jari, kaki, lengan, genital, system saraf, organ indra, kelenjar endokrin, tulang, kulit, otot-otot, dan lain-lain. Sejak lahir, alat-alat indera sudah siap pakai, tetapi baru berfungsi beberapa saat sesudah lahir. Setelah dilahirkan pertumbuhan fisik anak terjadi secara pesat pada tahun pertama, pada tahun kedua anak tumbuh secara pelan-pelan tetapi konstan selama sepuluh tahunan. Ketika anak menuju ke puncak masa remaja, pertumbuhannya terjadi dengan pesat, setelah itu untuk menuju ke taraf dewasa jasmani kecepatan pertumbuhan semakin menurun. Setelah usia 21 tahun, badan semakin kekar progresif menuju ketuaan dan akhirnya mati. [7]
2.2.2 Fase-fase Perkembangan Pribadi Manusia
 Sigmund Freud menekankan bahwa kehidupan pribadi manusia pada dasarnya adalah libido seksualitas. Pembentukan pribadi seseorang terjadi dari lahir sampai usia 20 tahun. Freud mengemukakan adanya enam tahap perkembangan fisiologi manusia, yaitu sebagai berikut. [8]
1.      Tahap oral (umur 0 sampai sekitar 1 tahun).
Dalam tahap ini, mulut bayi merupakan daerah utama dari aktivitas yang dinamis pada manusia.
2.      Tahap anal (antara umur 1 sampai 3 tahun).
Dalam tahap ini, dorongan dan aktivitas gerak individu lebih banyak terpusat pada fungsi pembuangan kotoran. 
3.      Tahap falish (antara umur 3 sampai 5 tahun).
Dalam tahap ini, alat kelamin merupakan daerah perhatian yang penting dalam pendorong aktivitas.
4.      Tahap latent (antara umur 5 sampai 12-13 tahun).
Dalam tahap ini, dorongan aktivitas dan pertumbuhan cenderung bertahan dan istirahat dalam arti tidak meningkatkan kecepatan pertumbuhan.
5.      Tahap pubertas (antara umur 12-13 tahun sampai 20 tahun).
Dalam tahap ini, dorongan aktif kembali, kelenjar endokrin tumbuh pesat dan berfungsi mempercepat pertumbuhan ke arah kematangan.
6.      Tahap genital (setelah umur 20 tahun dan seterusnya).
Dalam tahap ini, pertumbuhan genital merupakan dorongan penting bagi tingkah laku seseorang.

2.3            Ciri-ciri Pertumbuhan dan Perkembangan Pribadi Manusia
2.3.1        Ciri-ciri Pertumbuhan Pribadi Manusia
Pertumbuhan terjadi secara fisiologis terhadap material kehidupan. Pertumbuhan material ternyata tidak hanya kuantitatif, tetapi juga kualitatif. Hukum-hukum yang mengatur pertumbuhan adalah :
1.      Pertumbuhan bersifat kuantitatif serta kualitatif,
2.      Pertumbuhan merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan teratur,
3.      Tempo pertumbuhan adalah tidak sama,
4.      Tahap perkembangan berbagai aspek pertumbuhan adalah berbeda-beda,
5.      Kecepatan serta bola pertumbuhan dapat dimodifikasi oleh kondisi ini di dalam dan di luar badan, dan
6.      Setiap individu tumbuh menurut caranya masing-masing yang unik.
2.3.2        Ciri-ciri Perkembangan Pribadi Manusia
Hukum perkembangan dalam kepribadian manusia meliputi :
1.      Perkembangan bersifat kualitatif,
2.      Perkembangan sangat dipengaruhi oleh proses dan hasil belajar,
3.      Usia ikut mempengaruhi perkembangan,
4.      Masing-masing individu mempunyai tempo perkembangan yang berbeda-beda,
5.      Setiap spesies perkembangan individu mengikuti pola umum yang sama, perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan pendidikan. Untuk itu harus melakukan usaha-usaha seperti menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memotivasi kegiatan anak untuk belajar, dan membimbing perkembangan anak ke arah perkembangan yang optimal.


BAB III
KESIMPULAN
1.      Pertumbuhan diartikan perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan,
2.      Perkembangan adalah proses yang bersifat kualitatif dan berhubungan dengan kematangan seorang individu yang ditinjau dari perubahan yang bersifat progresif serta sistematis di dalam diri manusia,
3.      Selama sembilan bulan manusia hidup dalam perut ibu. Setelah dilahirkan pertumbuhan anak terjadi dengan pesat pada tahun pertama. Pada tahun kedua, anak tumbuh secara perlahan tapi konstan selama sepuluh tahunan. Ketika anak menuju ke puncak masa remaja, pertumbuhannya terjadi dengan pesat, setelah itu untuk menuju ke taraf dewasa jasmani kecepatan pertumbuhan semakin menurun.
4.      Freud mengemukakan adanya enam tahap perkembangan fisiologi manusia, yaitu : tahap oral, tahap anal, tahap falish, tahap laten, tahap pubertas, dan tahap genital.


DAFTAR PUSTAKA

H. Djaali, 2011. Psikologi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara


[1] H. Djaali, Psikologi Pendidikan. 2011:hal 16.
[4] Ibid
[5] Ibid, hal 2
[6] H. Djaali, Psikologi Pendidikan. 2011:hal 16-18
[7] H. Djaali, Psikologi Pendidikan. 2011:hal 20
[8] H. Djaali, Psikologi Pendidikan. 2011:hal 22-23 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar