Selasa, 31 Januari 2012

Makalah tentang Muhkam-Mutasyabih

Oleh : Moh. Mukhlas Hadi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Ulumul Qur’an memiliki ruang lingkup yang cukup luas. Diantara pembahasan-pembahasan ulumul qur’an yang sampai saat ini masih banyak diperdebatkan oleh banyak kalangan adalah pembahasan tentang muhkam-mutasyabih.
Hal yang melatar belakangi adanya muhkam-mutasyabih adalah ayat Al-Qur’an sendiri yang menyatakan bahwa di dalamnya terkandung dua jenis ayat yang keduanya merupakan bagian terpenting dalam kitab suci Al-Qur’an tersebut, dan keduanya harus diterima sepenuhnya tanpa pilih-pilih.
Mengenai hal tersebut, Ibn Habib An-Naisaburi pernah mengemukakan tiga pendapat mengenai muhkam-mutasyabih.
Yang pertama, pendapat yang mengatakan bahwa, seluruh ayat Al-Qur’an adalah muhkam. Berdasarkan firman Allah dalam Q.S Hud ayat 1.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الرٰ كِتٰبٌ أُحْكِمَتْ أٰيٰتُهُ، ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَّدُنْ حَكِيْمٍ خَبِيْرٍ (هود : ۱)

Artinya :
Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu.” (Q.S Hud [11] : 1)

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa, seluruh ayat Al-Qur’an adalah mutasyabih. Berdasarkan firman Allah dalam Q.S Az-Zumar ayat 23.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اللّٰهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشٰبِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ إِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ ذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِى بِهِ مَنْ يَّشَاءُ  وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهُ، مِنْ هَادٍ  (الزمر: ۲۳)
 
Artinya :
 “Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun”. (Q.S Az-Zumar [39] ; (23))

Ketiga, pendapat yang paling tepat, ayat-ayat Al-Qur’an terbagi menjadi dua bagian yaitu muhkam dan mutasyabih. Berdasarkan firman Allah dalam Q.S Ali ‘Imron ayat 7.
ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#
uqèd üÏ%©!$# tAtRr& y7øn=tã |=»tGÅ3ø9$# çm÷ZÏB ×M»tƒ#uä ìM»yJs3øtC £`èd Pé& É=»tGÅ3ø9$# ãyzé&ur ×M»ygÎ7»t±tFãB ( $¨Br'sù tûïÏ%©!$# Îû óOÎgÎ/qè=è% Ô÷÷ƒy tbqãèÎ6®KuŠsù $tB tmt7»t±s? çm÷ZÏB uä!$tóÏGö/$# ÏpuZ÷GÏÿø9$# uä!$tóÏGö/$#ur ¾Ï&Î#ƒÍrù's? 3 $tBur ãNn=÷ètƒ ÿ¼ã&s#ƒÍrù's? žwÎ) ª!$# 3 tbqãź§9$#ur Îû ÉOù=Ïèø9$# tbqä9qà)tƒ $¨ZtB#uä ¾ÏmÎ/ @@ä. ô`ÏiB ÏZÏã $uZÎn/u 3 $tBur ㍩.¤tƒ HwÎ) (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$#  (ال عمران : ۷)
Artinya :
“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Q.S Ali ‘Imron [3] : 7)




1.2   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka rumusan masalah makalah ini mencakup beberapa permasalahan dari Ilmu Ulumul Qur’an yaitu sebagai berikut :
Ø  Apa definisi dari ayat-ayat muhkam-mutasyabih ?
Ø  Bagaimana para ulama mendefinisikan muhkam-mutasyabih ?
Ø  Bagaimana sikap para ulama terhadap ayat-ayat muhkam-mutasyabih ?
Ø  Apa hikmah di balik adanya ayat muhkam-mutasyabih dalam Al-Qur’an ? 



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Muhkam-Mutasyabih
Menurut etimologi (bahasa) muhkam artinya suatu ungkapan yang maksud makna lahirnya tidak mungkin diganti atau diubah. Adapun mutasyabih adalah ungkapan yang maksud makna lahirnya samar.

2.2 Definisi Muhkam-Mutasyabih Menurut Para Ulama
1.      Menurut Ulama Ahlussunnah
Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik melalui takwil (metafora) ataupun tidak. Sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui oleh Alla, seperti saat kedatangan hari kiamat, keluarnya dajjal, dan huruf-huruf muqotho’ah.
2.      Menurut Ibn ‘Abbas
Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan sisi arti lain. Sedangkan ayat-ayat mutasyabih mempunyai kemungkinan sisi arti banyak.
3.      Menurut Al-Mawardi
Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya dapat dipahami akal, seperti bilangan rakaat shalat, kekhususan bulan ramadhan untuk pelaksanaan puasa wajib. Sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya.
4.      Menurut Ibn Abi Hatim
Ø  Riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib dari Ibn ‘Abbas yang mengatakan bahwa, ayat-ayat muhkam adalah ayat yang menghapus (nasikh), berbicara tentang halal-haram, ketentuan-ketentuan (hudud), kefarduan, serta yang harus diimani dan diamalkan. Adapun ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang dihapus (mansukh), yang berbicara tentang perumpamaan-perumpamaan (amtsal), sumpah (aqsam), dan yang harus diimani tetapi tidak harus diamalkan.
Ø  Riwayat dari Muqatil bin Hayyan yang mengatakan bahwa, ayat-ayat mutasyabih seperti alif lam mim, alif lam ra’, dan alif lam mim ra’.
Ø  Ibn Abi Hatim juga mengatakan bahwa ‘Ikrimah (w. 105 H), Qatadah bin Du’amah (w. 117 H), dan yang lainnya mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang harus diimani dan diamalkan. Sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang harus diimani, tetapi tidak harus diamalkan.
5.      Menurut ‘Abdullah bin Hamid
‘Abdullah bin Hamid mengeluarkan sebuah riwayat dari Adh-Dhahak bin Al-Muzahim (w. 105 H) yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak dihapus. Sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang dihapus.
Melihat pengertian para ulama diatas, dapatlah disimpulkan bahwa inti muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya sudah jelas, tidak samar lagi. Masuk dalam kategori muhkam adalah nash (kata yang menunjukkan sesuatu yang dimaksud dengan terang dan tegas, dan untuk makna itu ia disebutkan). Adapun mutasyabih adalah ayat-ayat yang maknanya belum jelas. Masuk dalam kategori mutasyabih ini adalah mujmal (global), mu’awwal (harus ditakwil).

2.3 Sikap Para Ulama Terhadap Aya-ayat Muhkam-Mutasyabih
Para ulama berbeda pendapat tentang apakah arti ayat-ayat mutasyabih dapat diketahui pula oleh manusia, atau hanya Allah saja yang mengetahuinya. Pangkal perbedaan pendapat tersebut bersumber dari cara mereka memahami struktur kalimat ayat berikut.
$tBur ãNn=÷ètƒ ÿ¼ã&s#ƒÍrù's? žwÎ) ª!$# 3 tbqãź§9$#ur Îû ÉOù=Ïèø9$# tbqä9qà)tƒ $¨ZtB#uä ¾ÏmÎ/ (ال عمران : ۷)
Artinya :
 “…padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih….”  (Q.S. Ali ‘Imron [3] : 7)
Yang pertama, apakah ungkapan والرسخون في العلم  di ‘athofkan pada lafadz Allah, sementara lafadz يقولون  sebagai khal. Ini artinya bahwa ayat-ayat mutasyabih pun diketahui oleh orang-orang yang mendalam ilmunya.
Yang kedua, apakah ungkapan والرسخون في العلم  sebagai mubtada’, sedangkan lafadz يقولون sebagai khabar. Ini berarti bahwa ayat-ayat mutasyabih itu hanya diketahui oleh Allah, sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya hanya mengimaninya.
Sehubungan dengan hal tersebut, ada sedikit ulama yang berpihak pada penjelasan gramatikal pertama, diantaranya adalah Mujahid (w. 104 H) yang diperolehnya dari Ibn ‘Abbas. Ibn Al-Mundzir mengeluarkan sebuah riwayat dari Mujahid dari Ibn ‘Abbas mengenai surat Ali ‘Imron [3] ayat 7 itu. Ibn ‘Abbas lalu berkata, “aku diantara orang-orang yang mengetahui takwilnya.” Imam An-Nawawi pun termasuk dalam kelompok ini. Di dalam syarah muslim, ia berkata , “pendapat inilah yang paling sahih karena tidak mungkin Allah mengkhitabi hamba-hamba-Nya dengan uraian yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya.” Ulama lain yang masuk kedalam kelompok ini adalah Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Ishak Asy-Syirazi (w. 476 H). Asy-Syirazi berkata, “tidak ada satu ayat pun yang maksudnya hanya diketahui Allah. Para ulama sesungguhnya juga mengetahuinya. Jika tidak, apa bedanya mereka dengan orang awam.”
Sebagian besar sahabat, tabi’in dan  generasi sesudahnya, terutama kalangan ahlussunnah, berpihak pada penjelasan gramatikal yang kedua. As-Suyuthi mengatakan bahwa validitas pendapat yang kedua diperkuat dengan riwayat-riwayat berikut ini :
1.      Dalam Al-Mashahif, Ibn Abu Dawud mengeluarkan sebuah riwayat dari Al-‘Amasy. Ia menyebutkan bahwa diantara qiro’at Ibn Mas’ud disebutkan :
وإنّ تأويله إلا عند الله والرّاسخون في العلم يقولون امنّا به.
Artinya : “sesungguhnya penakwilan ayat-ayat mutasyabih hanya milik Allah semata, sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih.
2.      Iman Bukhori dan Imam Muslim, serta yang lainnya mengeluarkan sebuah riwayat dari ‘Aisyah yang mengatakan bahwa Rosulullah SAW pernah bersabda ketika mengomentari surat Ali ‘Imron ayat 7 tersebut.
فإذا رأيت الّذين يتّبعون ما تشابه منه فأولئك الّذين سمّى الله فاحذرهم.
Artinya : “jika engkau menyaksikan orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabih untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, orang itulah yang dicela Allah, maka berhati-hatilah menghadapi mereka.”
3.      Dalam Al-Kabir, Ath-Thabrani mengeluarkan sebuah riwayat dari Abu Malik Al-Asy’ari. Ia pernah mendengar Rosulullah SAW bersabda :
لا أخاف على أمّتي إلا ثلاث خصال : إن يكثر لهم المال فيتحاسدوا فيقتتلوا وأن يفتح لهم الكتاب فيأخذه المؤمن يبتغي تأويله , وما يعلم تأويله إلا الله ....
Artinya : “Aku tidak menghawatirkan dari ummatku melainkan tiga hal, yaitu, menumpuk-numpuk harta sehingga memunculkan sifat hasad dan menyebabkan terjadinya pembunuhan. Kedua, mencari-cari takwil ayat-ayat mutasyabih, padahal hanya Allah-lah yang mengetahuinya……”
4.      Ad-Darimi dalam musnadnya mengeluarkan sebuah riwayat dari Sulaiman bin Yassar yang menyatakan bahwa seorang pria bernama Shabigh tiba di Madinah. Di sana ia bertanya-tanya tentang takwil ayat-ayat mutasyabih. Ia lalu diperintahkan menemui ‘Umar. Ketika orang itu menemuinya, ‘Umar sedang memasang tangga ke pohon kurma. “siapakah engkau?” Tanya ‘Umar. “saya adalah ‘Abdullah bin Shabigh.” ‘Umar lalu memukul orang itu dengan beberapa kayu dari tangga sehingga kepala orang itu berdarah. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ‘Umar memukul orang itu dengan cambuk sehingga meninggalkan bekas pada punggungnya.
Sehubungan dengan perbedaan tersebut, Ar-Raghif Al-Asfahani mengambil jalan tengah dalam menghadapi persoalan ini. Ia membagi ayat-ayat mutasyabih dari segi kemungkinan mengetahui maknanya, dengan tiga bagian :
1.      Bagian yang tidak ada jalan sama sekali untuk mengetahui takwil dari ayat mutasyabih. Seperti saat terjadinya hari kiamat, keluarnya binatang dari bumi, dan sejenisnya.
2.      Bagian yang menyebabkan manusia dapat menemukan jalan untuk mengetahui takwil dari ayat mutasyabih. Seperti kata-kata asing di dalam Al-Qur’an.
3.      Bagian yang terletak di antara keduanya, yakni yang hanya diketahui orang-orang yang mendalam ilmunya.
Inilah yang diisyaratkan sabda Nabi kepada Ibn ‘Abbas :
اللّهمّ فقّهه في الدّين وعلّمه التّأويل.
Artinya : “Ya Allah, berilah pemahaman kepadanya dalam bidang agama dan ajarkanlah takwil kepadanya.”  
Diantara ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang berbicara tentang sifat-sifat Allah.
Contoh :
ß`»oH÷q§9$#  n?tã ĸöyèø9$# 3uqtGó$#. (طه : ٥ )
Artinya : “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Thaha [20]:5)
@ä. >äóÓx« î7Ï9$yd žwÎ) çmygô_ur (القصص : ٨٨ )
Artinya : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah.” (Q.S. Al-Qashshash [28]:88)
   4s+ö7tƒur çmô_ur y7În/u rèŒ È@»n=pgø:$# ÏQ#tø.M}$#ur   (الرحمن : ٢٧ )
Artinya : “Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Q.S. Ar-Rahman [55]:27)
... ßtƒ «!$# s-öqsù öNÍkÉ÷ƒr& 4  (الفتح : ١٠ )
Artinya : “Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Q.S. Al-Fath [48]:10)
uä!%y`ur y7/u à7n=yJø9$#ur $yÿ|¹ $yÿ|¹  (الفجر : ٢٢ )
Artinya : “Dan datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris.” (Q.S. Al-Fajr [89]:22)
Dan lain sebagainya.
Sikap ulama terhadap ayat-ayat mutasyabih terbagi dalam dua kelompok, yaitu :
1.      Ulama Salaf, yaitu para ulama yang mempercayai dan mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah sendiri. Mereka menyucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an. Di antara ulama yang masuk dalam kelompok ini adalah Imam Malik.
Ibn Ash-Shalah menjelaskan bahwa madzhab salaf ini dianut oleh generasi dan para pemuka umat islam pertama. Madzhab ini pulalah yang dipilih imam-imam dan para pemuka fiqh. Kepada madzhab ini pulalah para imam dan pemuka hadits mengajak para pengikutnya. Tidak ada seorang pun diantara para teolog dari kalangan kami yang menolak madzhab ini.
2.      Ulama Khalaf, yaitu para ulama yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah, sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah. Mereka umumnya berasal dari kalangan ulama muta akhirin.
Berbeda dengan ulama salaf yang menyucikan Allah dari pengertian lahir ayat-ayat mutasyabih itu, mengimani hal-hal ghaib sebagaimana dituturkan Al-Qur’an, dan menyerahkan bulat-bulat pengertian ayat itu kepada Allah, maka ulama khalaf memberikan penakwilan terhadap ayat-ayat mutasyabih itu. Kedatangan Allah ditakwilkan dengan kedatangan perintahnya. Allah berada diatas hamba-Nya menunjukkan keMaha Tinggian Allah, bukan menunjukkan Allah menempati suatu tempat. Sisi Allah ditakwilkan dengan hak Allah. Wajah dan Mata Allah ditakwilkan dengan pengawasan-Nya, Tangan ditakwilkan dengan kekuasaan-Nya. Demikianlah prinsip penafsiran ulama khalaf.
Untuk menengahi kedua madzhab yang kontradiktif itu, Ibn Ad-Daqiq Al-‘Id mengatakan bahwa apabila penakwilan yang dilakukan terhadap ayat-ayat mutasyabih dikenal oleh lisan arab, penakwilan itu tidak perlu diingkari. Jika tidak dikenal oleh lisan arab, kita harus mengambil sikap tawaqquf. Dan mengimani maknanya yang sesuai apa yang dimaksud ayat-ayat itu dalam rangka menyucikan Allah. Namun bila arti lahir ayat-ayat itu dapat dipahami melalui percakapan orang arab, kita tidak perlu mengambil sikap tawaqquf. Contohnya adalah Q.S. Az-Zumar [39] ayat 56 yang kami maknai dengan hak dan kewajiban Allah.
Ibn Qutaibah (w. 276 H) menentukan dua syarat bagi absyahnya sebuah penakwilan. Pertama, makna yang dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas. Kedua, arti yang dipilih dikenal oleh bangsa arab klasik. Syarat yang dikemukakan ini lebih longgar dari pada syarat kelompok Azh-Zhahiriyah yang menyatakan bahwa arti yang dipilih tersebut harus dikenal secara popular oleh masyarakat arab pada masa awal.

2.4            Hikmah di balik Ayat-ayat Mutasyabih
Diantara hikmah keberadaan ayat-ayat mutasyabih di dalam Al-Qur’an dan ketidakmampuan akal untuk mengetahui adalah sebagai berikut :
1.      Memperlihatkan kelemahan akal manusia
Akal sedang dicoba untuk meyakini keberadaan ayat-ayat mutasyabih sebagaimana Allah SWT. memberi cobaan pada badan untuk beribadah. Seandainya akal yang merupakan anggota badan paling mulia itu tidak diuji, tentunya seseorang yang berpengetahuan tinggi akan menyombongkan keilmuannya sehingga enggan tunduk kepada naluri kehambaannya.
Ayat-ayat mutasyabih merupakan sarana bagi penundukan akal terhadap Allah SWT. karena kesadarannya akan ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih itu
2.      Teguran bagi orang yang mengotak-atik ayat mutasyabih
Pada penghujung surat Ali-Imran ayat 7, Allah SWT. menyebutkan wa ma yadazdakkaru illa ulu al-albab sebagai cercaan terhadap orang-orang yang mengotak-atil ayat-ayat mutasyabih. Sebaliknya, memberikan pujian pada orang-orang yang mendalami ilmunya, yakni orang-orang yang tidak mengikuti hawa nafsunya untuk mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih sehingga mereka berkata rabbana la tuzigh qulubana. Mereka menyadari keterbatasan akalnya dan mengharafkan ilmu laduni.
3.      Memberikan pemahaman abstrak-ilahiyah kepada manusia melalui pengamalan inderawi yang biasa disaksikannya
Sebagaimana dimaklumi bahwa pemahaman diperoleh manusia tatkala ia diberi gambaran inderawi terlebih dahulu. Dalam kasus sifat-sifat Allah, sengaja Allah memberikan gambaran fisik agar manusia dapat lebih mengenali sifat-sifat-Nya. Bersamaan dengan itu, Allah menegaskan bahwa diri-Nya tidak sama dengan hamba-Nya dalam hal pemilikan anggota badan.



4.       
BAB III
KESIMPULAN
Ø  Ayat muhkam adalah ayat yang yang maknanya sudah jelas, tidak samar lagi.
Ø  Ayat mutasyabih adalah ayat yang maknanya belum jelas.
Ø  Para ulama banyak yang mendefinisikan ayat muhkam dan ayat mutasyabih, tapi pada dasarnya, pengertian dari para ulama tersebut adalah sama.
Ø  Para ulama berbeda pendapat tentang apakah ayat mutasyabih itu diketahui oleh Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya, atau hanya Allah saja yang mengetahuinya sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya hanya mengimaninya.
Ø  Hikmah adanya ayat mutasyabih adalah :
1.      Memperlihatkan kelemahan akal manusia,
2.      Teguran bagi orang yang mengutak-atik ayat mutasyabih, dan
3.      Memberikan pemahaman abstrak-ilahiyah kepada manusia melalui pengamalan inderawi yang biasa disaksikannya




DAFTAR PUSTAKA

Dr. Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an, Pustaka Setia, Bandung, 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar